Highlights

Alergi Pada Anak

May 4, 2017 By 1 Comment

Suatu pagi, Mama melihat pipi bayi ada ruam yang berwarna kemerah-merahan. Bayi Mama pun rewel, sambil menggaruk-garuk pipi dan anggota badannya yang lain. Apakah ruam itu adalah bekas susu? Apakah anak Mama mengalami alergi? Kok, bisa, padahal selama ini anak minum susu yang sama, tapi tidak pernah kena alergi?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering dilontarkan oleh sebagian mama. Sebagian mama memberi label alergi ketika bayi/ anak mengalami ruam kemerah-merahan di kulitnya. Kemudian, yang dituduh menjadi penyebab alergi adalah makanan/ minuman yang sebelumnya dikonsumsi oleh anak. Mama pun menghentikan pemberian makanan/ minuman yang diduga sebagai penyebab alergi tersebut. Padahal, anak yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan asupan nutrisi dari makanan/ minuman tersebut.

Sebenarnya, makanan/ minuman bukan lah penyebab alergi satu-satunya. Alergi merupakan reaksi tubuh yang muncul ketika ada kontak dengan zat yang dapat mencetuskan alergi (alergen). Alergen dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna, melalui saluran nafas, melalu kontak dengan kulit, atau melalu gigitan binatang. Oleh sebab itu, sebelum menuduh bahwa makanan/ minuman adalah penyebab alergi pada anak, Mama harus mengenali pencetusnya terlebih dahulu.

Perlu diketahui, bahwa alergi diturunka secara genetik. Artinya, apabila orang tua memiliki alergi, maka kemungkinan besar anaknya akan memiliki bakat alergi juga. Selain itu, anak yang dilahirkan dengan operasi sectio caesar juga lebih berisiko terkena alergi. Hal ini disebabkan karena bayi tidak memperoleh kekebalan dari jalan lahirnya.

Reaksi alergi yang terjadi pada anak sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Reaksi ini memerlukan waktu (proses sensitisasi), yakni masa setelah terjadi kontak dengan alergen sampai munculnya gejala dan reaksi alergi. Proses ini bisa terjadi dalam waktu singkat, namun dapat terjadi beberapa waktu kemudian, seperti beberapa bulan kemudian, bahkan beberapa tahun kemudian. Hal ini bergantung kepada seberapa seringnya anak melakukan kontak dengan alergen, juga kepekaan anak terhadap alergen tersebut.

Alergi yang sering dialami oleh anak, antara lain:

  • Alergi Makanan

Alergi makanan adalah alergi yang palings sering dicurigai terjadi pada anak. Paling sering karena anak mengkonsumsi susu sapi dan produk turunannya, telur, hewan laut, kacang- kacangan, gandum, dll.

  • Asma

Asma adalah salah satu alergi yang sering dialami anak. Gejalanya berupa batuk dan sesak nafas. Penyebab alergi ini biasanya karena anak alergi terhadap sesuatu yang masuk lewat saluran, seperti asap rokok, serbuk sari bunga, udara dingin. Selain itu, asma juga bisa disebabkan karena anak beraktivitas terlalu berat atau mengalami stres secara psikologis.

  • Dermatitis Atopi

Dermatitis atopi sering dikenal dengan nama eksim. Gejala alergi yang terlihat saat anak terkena eksim adalah terdapat ruam yang mengelompok seperti bulatan-bulatan, jika teraba sangat kasar dan kering, biasanya anak akan rewel karena gatal. Pencetusnya bisa berupa makanan atau kontak kulit dengan debu, hewan, serta karena keringat yang berlebih.

  • Dermatitis Kontak

Pencetus dermatitis kontak adalah kontak langsung kulit dengan alergen. Bisa berupa getah tanaman, deterjen, pewangi pakaian, dsb.

  • Urtikaria

Urtikaria atau biduran gejalanya seperti bekas gigitan nyamuk yang berwarna kemerahan. Biasanya rasanya gatal dan bisa menyebar dari satu bagian anggota tubuh ke anggota tubuh lain. Pencetusnya tidak dikerahui pasti, namun umumnya karena makanan, cuaca, dan infeksi virus.

  • Hay Fever

Gejala alergi yang terjadi adalah anak bersin-bersih, hidungnya berair, dan mata terlihat memerah. Hay fever jarang terjadi di negara tropis seperti indonesia. Penyebab utamanya adalah serbuk sari (pollen).

Apabila Mama mencurigai anak alergi terhadap suatu pencetus, maka yang perlu dilakukan adalah hindarilah pencetus tersebut. Mama juga bisa membawa anak ke dokter untuk melakukan tes alergi sebagai penegakan diagnosis. Tes alergi biasanya dilakukan dengan melakukan skin test, yakni dengan cara menggoreskan alergen yang dicurigai ke kulit anak. Selain skin test, untuk mengetahui penyebab alergi juga dilakukan pemeriksaan darah.

Namun, tak semua anak yang mengalami alergi harus melakukan tes alergi. Mama bisa melakukan uji eliminasi dan provokasi sendiri di rumah untuk kasus kecurigaan terhadap alergi. Misalnya, seperti yang dilakukan para mama dalam pemberian Makanan pendamping ASI (MPASI), mama memberlakukan aturan tiga hari (three days rule wait). Artinya, jika dalam tiga hari anak diberi makan makanan yang berpotensi menjadi penyebab alergi, tetapi anak baik-baik saja, maka anak tidak alergi terhadap bahan makanan tersebut.

Alergi sebenarnya tidak dapat disembuhkan. Alergi adalah penyakit seumur hidup. Meski demikian, Mama tidak perlu cemas. Karena semakin bertambah usia anak, biasanya risiko alergi makin berkurang. Selain itu, sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dalam bidang alergi, ternyata timbulnya alergi bisa dicegah dengan melakukan intervensi yang tepat sejak dini.



1 Comment on "Alergi Pada Anak"

  1. […] ikan bisa dikonsumsi oleh buah hati kita. Tetapi harus diperhatikan, apakah sang anak terdapat riwayat alergi atau tidak. Kalau iya, maka harus memilih ikan yang benar. Lebih baik menghindari daripada harus […]


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply